Penerbit Buku

Untitled (600 × 250 px)

Kisah Pembacaan Buku “Memahami Psikologi Positif”

Sebuah Ulasan karya Annisa Reginasari*

Pada suatu siang, sebuah pesan dari WhatsApp datang dari mentor saya dalam dunia menyunting buku, Mas Ganjar Sudibyo (Mas Ganz). Beliau memberikan informasi bahwa Rua Aksara baru saja menerbitkan sebuah buku. Ketika saya membaca lebih lanjut isi pesan tersebut, Mas Ganjar menjelaskan buku ini adalah karya rekan sejawat saya ketika masih berkuliah di Magister Psikologi UGM, Bang Agung Iranda. Saya antusias sekali! Mas Ganz mengirimkan foto buku yang dimaksud. Bukunya berjudul Memahami Psikologi Positif: Sebuah Upaya Menjadi Manusia Bahagia dan Produktif. Kesan pertama yang muncul dalam benak saya: “Wah cantik sekali tampilan bukunya!” (sambil saya menyertakan emoticon hati). Mas Ganz bilang bahwa beliau akan kirimkan bukunya untuk saya baca dan telaah.

Tampilan buku

Beberapa hari kemudian, buku karya Bang Agung ini sudah sampai ke tangan saya. Konsisten dengan kesan pertama, tampilan buku ini menurut saya memang cantik dan menarik! Saya punya beberapa ritual saat menerima atau membeli buku baru: melepas plastiknya dengan pelan perlahan-lahan, kemudian diambu wangi kertasnya, lalu menimang dan menimbangnya. Buku ini ringan dengan ketebalan yang cukup untuk 206 halaman, sehingga termasuk snack-able untuk dilahap isinya. Kembali kepada tampilan sampul, saya mengamati bahwa sampulnya berwarna nuansa putih, ungu, kuning, biru, sedikit warna merah muda, dan biru, dengan sebentuk gambar jendela yang semi-abstrak. Kalau boleh memaknai, saya kira unsur khas psikologi sudah terwakili oleh warna ungu, kemudian warna merah muda tentang relasi dan cinta, warna kuning tentang keceriaan dan kegembiraan, juga ada sedikit warna biru lambing melankolis. Pada akhirnya, saya mencoba menyimpulkan (setelah baca keseluruhan sub-bab) bahwa sampul ini memang cocok untuk mengilustrasikan tentang isi buku ini secara lengkap. Tujuan buku ini: ide bahwa psikologi positif hadir sebagai pelengkap dan penyeimbang aliran psikologi yang muncul sebelumnya (misal: psikoanalisis). Menurut saya, ini adalah pertanda awal keberhasilan penulis dan tim editorial penerbit dalam menyampaikan pesan implisitnya bahwa buku ini hadir untuk melengkapi literatur psikologi yang ada.

Ritual saya selanjutnya adalah memeriksa halaman awal buku dan identitas buku. Bertambah satu lagi kesan menyenangkan yang saya terima dari menerima buku ini: ada sebuah pembatas buku dan sebuah kartu untuk pembaca dapat menulis hal positif dalam hidup. Ini adalah sentuhan kecil namun penuh makna. Selain itu, halaman judul dan informasi nama percetakan di bagian dalam dicetak dengan kertas art paper yang glossy, menambah kesan mewah pada buku ini. Penasaran dengan akhir buku ini, saya meloncat sebentar untuk memeriksa akhir buku ini untuk melakukan pindai cepat tentang keberadaan referensi. Ternyata, selain ada daftar referensi yang saya cari, saya juga menemukan beberapa lembar halaman untuk pembaca melatih diri untuk menulis penerapan prinsip psikologi positif dalam kehidupan sehari-hari.

Isi buku

Penulisan struktur buku ini terbagi menjadi tiga bagian (babak), yang mana di dalam setiap bagian mencakup rincian judul bab. Bagian I berisi mengenai seberapa penting psikologi positif untuk kondisi mental manusia saat ini? Apa itu Psikologi Positif? Bagian II berisi tentang pembahasan mengenai Emosi positif, Kebahagiaan, Optimistis, Harapan, Gratitude, Pemaafan, Engagement, Flow, Attachment dan Cinta, Makna hidup, dan Accomplishment. Terakhir di Bagian III, penulis menyajikan pembahasan tentang adversity quotient, positive teaching, religiositas dan psikologi positif, dan sistem keseimbangan. Penyajian seperti ini memberikan isyarat bahwa pengorganisasian isi buku telah dirancang sedemikian rupa. Pembabakan akan membantu pembaca membentuk skema alur yang runut sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami cakupan pembahasan isi buku. Intuisi saya mengatakan bahwa cara penyajian ini khas sekali dengan gaya penyuntingan Mas Ganz karena sebelumnya saya pernah bekerja bersama Mas Ganz dalam menyunting buku juga—salah satu ilmu yang saya dapatkan dari beliau adalah mengenai fungsi pembabakan dalam penyajian sebuah buku.

Isi buku ini runut dan runtut. Jika diperhatikan, setiap alenia tidak diisi dengan banyak kalimat. Bangunan alenia lebih padat. Mungkin hanya tiga sampai empat atau lima kalimat, yang mana setiap alenia tentu sudah memiliki ide utamanya sendiri. Penyajian seperti ini, sekali lagi, menjadi snack-able! Pembaca tentu semakin menjadi lebih mudah mencerna maksud setiap alenia karena pembaca tidak menderita pemerosesan berpikir akibat muatan informasi yang terlalu banyak per alenia.

Meskipun ringan dibaca, buku perdana karya Bang Agung ini menyampaikan serba-serbi Psikologi positif secara utuh (wholeness) yang informasinya menyatu dalam bungkusan yang rapi dari awal hingga akhir. Di awal buku, penulis mengemukakan pemahamannya tentang konsep psikologi positif lalu di akhir pun penulis mengemas kembali mengenai peran psikologi positif sebagai penyeimbang aliran sebelumnya. Istilah ‘psikologi positif sebagai penyeimbang’ ini pun menurut saya adalah istilah unik dan otentik buku ini sehingga menambah kekhasannya. Keutuhan buku juga tampak dari cara penulis menyediakan referensi sumber utama yang cukup komprehensif. Penulis menjelaskan dasar pemahaman psikologi positif dalam bingkai filsafat ilmu atau filsafat metodologi. Misalnya paradigma psikologi positif dari timur maupun barat, juga dari sudut pandang agama (halaman 15-17) atau makna hidup dan filsafat eksistensialisme dan fenomenologi (halaman 113). Buku ini membekali pembaca dengan sumber referensi, ulasan artikel, dan buku baik dari sumber utama (sumber babon) maupun sumber bacaan yang baru. Topik penelitian yang baru yang diulas dalam buku ini seperti flourishing, PERMA, dan positive teaching. Subbab paling menarik bagi saya tentu saja adalah tentang positive teaching! 😊

Selain kemampuannya membangun koneksi dengan pemahaman pembaca, penulis juga memiliki sensitivitas terhadap isu-isu psikososial terkini yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Misalnya, penulis mengulas kaitan psikologi positif dengan kehidupan anak muda, remaja, dan korot lainnya dengan cyberspace (halaman 59) dan tentang adiksi game online (sub-bab harapan/hope). Secara pribadi, saya terkesan dan tertarik dengan kepiawaian penulis membahas tentang isu kaitan antara kebahagiaan dan aktivitas fisik. Isu ini semakin ke sini semakin relevan dengan yang terjadi di kohort kaum muda. Kaum muda sekarang sepertinya memang punya permasalahan kesehatan, misalnya obesitas, gaya hidup tak sehat yang ditandai dengan kebiasaan merokok, makan junkfood, konsumsi kopi dan gula berlebihan, sering sakit, zilenial jompo dan sebagainya. Fenomena yang penulis bahas juga tentang kaitan makna hidup dengan isu bunuh diri.

Keunikan lainnya yang saya rasakan ketika membaca buku ini adalah ketika penulis menyelipkan pengalaman reflektifnya mengenai sebuah sub-konsep dari psikologi positif. Kemudahan informasi di dalam buku ini untuk dicerna pembacanya juga semakin kental terasa karena adanya bagian pengalaman ini. Penulis tidak melakukan praktik penulisan yang hanya mengutip, mencaplok, atau memindahkan informasi mentah dari sumber sebelumnya. Oknum penulis yang masih amatir biasanya akan mengeluarkan jurus “cukup dikasi koma-koma saja” untuk merangkum informasi. Bang Agung tidak seperti itu gaya menulisnya. Beliau memberikan pengutipan mengenai pembahasan konsep-konsep psikologi positif dan kemudian memberikan ide reflektif dan pemahamannya tentang hal itu, sebagaimana menjalani kesehariannya. Gaya penulisan Bang Agung pada buku ini cocok dengan judul dan halaman pengantar yang ada di awal buku. Penulis menyampaikan di awal bahwa buku ini adalah hasil dari proses beliau memahami dan terinspirasi dari psikologi positif. Penulis mampu menerjemahkan konsep yang cenderung masih abstrak dari aliran psikologi positif ini ke dalam bahasa yang terkoneksi dengan pemahaman pembaca. Pengalaman reflektif penulis tersebar di beberapa halaman buku, misalnya pada halaman 29 saat penulis menceritakan tentang pengalaman emosi positif ketika beliau menjadi guru pendamping siswa autis; refleksi penulis dari perbincangannya dengan berbagai orang (misal di halaman 58); pengalaman gratitude di halaman 70-71, juga tentang adversity quotient di halaman 148-152.

Pada awal atau akhir sub-bab, ada kata-kata Mutiara (quotes). Quotes bukan sembarang quotes, tetapi quotes ini hadir untuk mengilhami pembaca mengenai apa yang hendak penulis bahas pada bagian tulisan itu. Misalnya, quotes pada halaman 57 tentang harapan: “Jiwa kita membutuhkan harapan supaya bisa hidup, sama seperti ikan membutuhkan air. Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita” (Mark Manson). Kemudian pada halaman 61, penulis menyampaikan idenya tentang bagaimana kecanduan narkoba dan game online bisa mengkhawatirkan bagi banyak orang tua sebab individu pada kondisi ini berada dalam kondisi kecemasan yang tidak menentu. Pada kondisi serba tidak menentu inilah sebenarnya individu membutuhkan harapan sebagai bahan bakar guna mengaktifkan roda perubahan kea rah yang lebih baik. Quotes yang paling saya suka ada di halaman 111 tentang cinta oleh Jalaludin Rumi 😊

Kritik dan saran penelaah untuk buku

Ketika saya sudah mulai terhanyut menikmati buku ini, saya tersadar bahwa pesanan editorial adalah saya sebagai penelaah buku ini. Tugas saya bukan hanya untuk menemukan sisi positif dari buku Memahami Psikologi Positif ini, tetapi juga menemukan celah-celah untuk penyempurnaan di masa mendatang 😀 Well, saya harus memakai kembali jubah professional saya sebagai penelaah. Jujurly, sulit bagi saya untuk menemukan celah yang mengganggu ketika membaca buku ini. Alhasil, saya mencoba menjadi lebih teliti dan kritis ketika membaca dan mengamati buku ini. Memang, ada beberapa saltik yang masih saya temukan. Tidak banyak kok, sangat minim sekali saltiknya (hanya 3 atau beberapa kata saja). Ketaksempurnaan adalah fitrah manusia, sedangkan Yang Maha Sempurna hanyalah Tuhan.

Hal yang lain misalnya hanyalah mengenai cetakan logo penebit di bagian belakang buku. Menurut saya, akan menjadi lebih manis lagi apabila logo penerbit bagian belakang buku ini dicetak dengan resolusi yang lebih tinggi atau dengan rasio gambar yang sedikit lebih besar sehingga gambarnya lebih jelas. Gambar logo yang lebih jelas misalnya seperti yang dicetak pada halaman judul buku bagian dalam pada kertas art paper yang glossy tadi.

Oleh karena saya berminat pada kaitan antara penerapan teori dan praktik psikologi positif dalam area anak, remaja, dan pendidikan, buku ini sayangnya hanya menyoroti sedikit di bidang ini (psikologi positif dan pendidikan). Meskipun penulis sudah menjadikannya 1 subbab tersendiri, menurut saya kurang banyak🤭🤩karena positive teaching adalah subbab yang sangat menarik👍🏻Dengan mempertimbangan pengalaman penulis sebagai seorang dosen yang hobi menulis, saya berharap di kesempatan lain, penulis bisa berbagi strategi mengajar di pendidikan tinggi dalam sub bab positive teaching lebih jauh lagi. Saya membaca dalam buku ini penulis menyediakan refleksinya juga tentang kaitan antara psikologi positif dengan kajian area psikologi industri/organisasi dan komunitas, sehingga saya kira buku sudah ini cukup luas untuk memberikan informasi kaitan psikologi positif yang diterapkan di berbagai bidang psikologi.

Buku berisi materi yang cukup lengkap, mulai dari konsep yang runut dan runtut serba-serbi Psikologi Positif, sampai pada upaya penulis dan tim editorial dalam menyediakan tak sekedar pengalaman membaca, namun juga mengajak pembaca membangun pengalaman mengalami psikologi positif. Pengalaman mengalami psikologi positif yang dimaksud seperti pada penyediaan kartu latihan dan lembar kerja menulis refleksi pengalaman pembaca akan kondisi positif dalam kehidupannya sehari-hari. Sempat saya berpikir, dengan kelengkapan seperti ini, mungkin penulis dan tim editorial ingin mempersembahkan buku ini untuk dapat dinikmati oleh semua kalangan dari minat yang lebih beragam. Target pembaca seperti pembaca umum, peminat bidang ilmu psikologi, juga mahasiswa (karena ada sumber rujukannya). Saya, namun demikian, jadi pengin melemparkan kembali sebuah pertanyaan kepada penulis, tim editorial, atau juga para pembaca: sesungguhnya target utama buku ini adalah audiens yang seperti apa?

Pertanyaan target utama audiens ini sebenarnya cukup subjektif, mengingat minat saya sebagai pengembang ilmu psikologi yang tidak jauh dari cita-cita sebagai seorang pendidik (dosen) yang perlu banyak belajar tentang dunia perdosenan. Bang Agung juga notabene adalah seorang dosen dibidang ilmu psikologi juga pastinya sudah memahami mengapa pertanyaan ini muncul di benak saya. Dengan format buku seperti ini, maka pengelompokan buku ini lebih tepat kita anggap sebagai buku apa? Apakah buku referensi, buku monograf, ataukah modul ajar (karena ada lembar latihannya)?

Pengelompokan ini bisa menjadi penting, bisa juga tidak penting. Pengelompokan menjadi penting ketika ada urgensi seorang dosen untuk mengidentifikasikan karya tulis (buku) untuk mencapai perhitungan teknis tertentu guna meraih penghargaan atas idenya dalam upayanya pengembangan ilmu oleh pemangku kebijakan di Republik Indonesia (Direktorat Jendral Sumber Daya Iptek dan DIKTI Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, 2019). Pengelompokan ini boleh jadi juga tidak dianggap begitu penting karena mungkin seorang pengajar memiliki idealisme tertentu. Idealisme itu bermuara pada prinsip bahwa seorang penulis pasti akan menulis apa pun yang ia sukai dan ia minati dalam bentuk apapun, selama ia yakin bahwa tulisan itu memiliki dampak kebaikan dan manfaat untuk masyarakat luas.  Dengan kaliber Bang Agung yang sudah menjadi penulis di berbagai platform, Bang Agung juga mungkin memiliki idealisme ini. Oleh karenanya, dengan hadirnya buku ini di tengah-tengah kita semua, apapun kategorisasinya, buku ini lebih mengutamakan kebermanfaatan untuk khalayak luas. Buku ini adalah upaya memahami psikologi positif yang dipersembahkan kepada masyarakat sipil nan awam agar mengenal psikologi positif. Keselarasan semangat ini begitu terasa ketika saya membaca bagian pengantar Penulis: “Buku ini bermula dari ketertarikan saya untuk belajar psikologi positif ketika kuliah Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada. Terutama ketika mengambil mata kuliah Psikologi Positif yang diampu oleh Prof. Sofia Retnowati. Beliau punya cara tersendiri menyampaikan materi psikologi positif…. Ada aura positif yang terpancar dari wajah, penampilan, dan cara beliau di depan kelas. Dosen yang pakai kacamata dan selalu tersenyum tersebut berusaha menghafal nama kami satu per satu, meminta mahasiswa bicara di depan kelas 15 menit sebelum kuliah untuk membahas pengalaman, cerita inspiratif, dan kesan berharga dari perjalanan hidup seseorang”.

Karena memiliki guru yang sama dan pengalaman yang hampir mirip terhadap pengalaman mengambil mata kuliah yang sama dengan Bang Agung, maka saya secara intersubjektif membenarkan tulisan Bang Agung ini 😀 Inti dari belajar Psikologi Positif adalah tentang bagaimana kita sebagai individu menjadikannya bagian dari dirinya sendiri. Psikologi positif menekankan pada kekuatan dan keberfungsian mental manusia secara lebih baik. Individu yang mulai belajar mengenai psikologi positif dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari akan terasa oleh lingkungan sekitarnya. Ia memancarkan aura yang positif yang menyenangkan. Psikologi positif melatih kita untuk mulai mengasihi diri hingga bermuara pada penerimaan positif tanpa syarat dan penuh apriesiasi ketika berinteraksi dengan pengalaman bermakna yang dijalani orang lain.

Referensi:
Direktorat Jendral Sumber Daya Iptek dan DIKTI Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (2019). Panduan Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Akademik/Pangkat Dosen. https://pak.kemdikbud.go.id/portalv2/panduan-pak/

===============
Annisa Reginasari adalah Doktor Psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada. Tulisan-tulisannya tersebar di jurnal maupun buku. Saat ini tinggal di Yogyakarta.

Ayo pesan sekarang!